|
Seorang teman meminjamkanku sebuah buku karya Eiji Yoshikawa berjudul Taiko. Buku ini menceritakan kisah orang-orang besar dizamannya yang memiliki karakter berbeda-beda. Seorang yang penuh ambisi namun dengan emosi yang temparamental, seorang yang mengerti psikologi manusia dan berusaha membuat orang lain melakukan hal yang dia inginkan tanpa melakukan kekerasan dan seseorang yang sabar dan tenang dipermukaan dengan ambisi yang besar dan kelapangan dada yang luar biasa. Taiko Jepang memerupakan gelar yang diterima tokoh yang kedua, yaitu tokoh yang berhasil menyatukan Jepang, dengan mengerti jiwa manusia ia dapat membuat orang lain melakukan keinginannya tanpa menggunakan kekerasan. Sayangnya dalam kisah ini tokoh wanita merupakan tokoh pelengkap yang terkesan tidak memiliki fungsi apa-apa, para wanita tidak dieksplore secara lebih jauh kegiatan, bantuan dan dukungannya. Dalam Budaya Jepang, wanita memang mengabdi kepada suami secara sungguh-sungguh, bahkan cenderung berlebihan. Budaya ini memang sesuai dengan Islam, dengan kaitannya bahwa ridho Allah bergantung pada ridho suami, namun dalam budaya Jepang pria tidak melakukan kewajibannya sesuai hukum Islam. Secara garis besar hikmah yang dapak kuambil adalah bahwa setiap orang dapat mewujudkan cita-citanya, dan dalam mewujudkan cita-citanya tersebut ada berbagai cara.
|